Pertahanan Wilayah

bagaimana konsep kepemilikan tanah muncul sebelum adanya pagar

Pertahanan Wilayah
I

Pernahkah kita meninggalkan jaket di atas kursi kafe, lalu pergi memesan kopi dengan perasaan tenang? Kita yakin tidak ada yang akan menduduki kursi itu. Jaket tersebut seolah menjadi medan gaya tak kasat mata. Secara refleks, orang asing akan mencari meja lain. Tapi, mari kita pikirkan sebentar. Mengapa selembar kain bisa memiliki kekuatan hukum absolut di ruang publik? Fenomena sepele ini sebenarnya adalah jendela kecil menuju salah satu insting paling purba umat manusia. Jauh sebelum sertifikat tanah ditemukan, dan ribuan tahun sebelum kawat berduri diciptakan, nenek moyang kita sudah memahami satu konsep krusial: ini wilayahku, dan itu wilayahmu.

II

Untuk memahami dari mana datangnya konsep "milikku", kita harus mundur jauh ke zaman purba. Secara biologis, kita adalah mamalia. Dan seperti mamalia lainnya, kelangsungan hidup kita sangat bergantung pada ketersediaan sumber daya. Di sinilah ilmu biologi evolusioner memperkenalkan konsep resource-holding potential. Sederhananya, ini adalah kemampuan seekor makhluk hidup untuk mengamankan dan mempertahankan sumber daya dari pesaingnya. Dulu, kelangsungan hidup teman-teman dan saya ditentukan oleh seberapa baik kita menjaga area tempat kita mencari makan. Menariknya, nenek moyang kita yang hidup nomaden sebagai pemburu-pengumpul sebenarnya tidak terlalu peduli pada tanahnya itu sendiri. Mereka hanya peduli pada apa yang ada di atas tanah tersebut. Entah itu kawanan rusa, pohon buah, atau sumber air. Namun zaman berubah. Lalu, apa yang membuat kita tiba-tiba merasa harus "memiliki" sebidang tanah secara permanen?

III

Transisi besar itu terjadi sekitar sepuluh ribu tahun yang lalu. Kita mengenalnya sebagai Revolusi Pertanian. Saat kita mulai menanam gandum dan memelihara ternak, kita tidak bisa lagi berpindah-pindah. Kita harus menetap dan terikat pada satu petak tanah. Namun, ada satu masalah logistik yang sangat besar. Membangun tembok batu atau pagar kayu yang panjang membutuhkan tenaga dan waktu yang luar biasa menguras fisik. Di masa itu, membuat pagar fisik yang kokoh mengelilingi ladang adalah kemewahan yang nyaris mustahil. Jadi, bagaimana caranya mereka melindungi ladang yang butuh waktu berbulan-bulan untuk panen? Bayangkan kita berada di posisi mereka saat itu. Kita tertidur pulas di malam hari. Tidak ada alarm, tidak ada anjing penjaga, dan tidak ada pagar pembatas. Apa yang sebenarnya menahan kelompok asing untuk tidak menjarah hasil keringat kita?

IV

Jawabannya sungguh brilian dan menjadi salah satu lompatan kognitif terbesar dalam sejarah peradaban. Pagar pertama yang pernah diciptakan manusia ternyata tidak terbuat dari kayu atau batu. Pagar pertama kita terbuat dari fiksi. Para ahli antropologi menemukan bahwa sebelum adanya batas fisik, manusia menciptakan batas psikologis. Kita mulai menancapkan batu bertanda khusus, mendirikan totem, atau menaruh tengkorak hewan di sudut-sudut ladang. Yang membuatnya bekerja bukanlah benda itu sendiri, melainkan cerita di baliknya. Kita menciptakan konsep taboo atau tabu komunal. Kita sepakat bahwa jika seseorang melewati batas batu tersebut, roh dewa akan marah, atau leluhur akan mengutuk mereka dengan penyakit. Tiba-tiba, batas tanah yang tidak terlihat itu menjadi sangat nyata dan mengerikan di dalam kepala setiap orang. Ketakutan akan kutukan dan ancaman pengucilan sosial inilah yang menjadi kawat berduri pertama kita.

V

Sampai hari ini, kita masih mewarisi perangkat psikologis peninggalan masa lalu tersebut. Ketika teman-teman meletakkan jaket di kursi kafe, jaket itu berfungsi persis seperti totem batu purba. Orang asing yang melihatnya tidak melanggar batas bukan karena mereka tidak mampu menyingkirkan jaket itu secara fisik. Mereka mundur karena adanya social contract atau kontrak sosial tak tertulis yang terus hidup dalam benak kita bersama. Menyadari hal ini rasanya membuat kita bisa melihat dunia dengan kacamata yang lebih hangat. Konsep pertahanan wilayah ternyata bukanlah semata-mata soal agresivitas, hukum, atau tingginya tembok bata. Pada intinya, itu adalah bukti indah bahwa kelangsungan hidup kita selalu bergantung pada kemampuan kita untuk berbagi cerita, menjaga rasa saling percaya, dan menghargai batas tak kasat mata satu sama lain.